Selasa, 19 Mei 2015

MALAIKAT TAKKAN SALAH MENCATAT AMAL BAIK HANYA GEGARA ATRIBUT

Mitha: Dirimu lagi sibuk gak mas Dolob? Aku menemukan sesuatu yg aneh..
 

Dolob: Sesuatu yg aneh gimana maksudnya Mith?

Mitha: Ada blog yg atas nama JCI tapi isinya foto-foto kegiatan PB

Dolob: Mana alamat blognya? Bukan www.dolobisme.blogspot.com kan? Hahahaaa...

Mitha: Kamu search aja dech... Ah banyak bgt  foto-fotoku barang termasuk foto kita bertiga ama si eyang yg  bergandengan tangan bertiga itu dg tulisan "boleh dicontoh"

Dolob: Search di google pakai kata kunci apa?

Mitha: q lupa... Tapi itu gila bgt sumpah!

Dolob: Udah q search gak ada kok, kamu ceritanya kok bisa nemu itu gmn?

Mitha: q cuma dikasih tau

Dolob: Dikasih tau siapa? Lha udah liat sendiri blognya blm? Gak ada kok q udah search beneran. Paling cuma mau memperkeruh suasana kuwi, nggo ngadu domba PB karo JCI

Mitha: Udah donk, q buka dewe kok. Kuwi zonk bgt masak pemilik blognya foto kang bulpen

Dolob: Oh nek kaitane karo kang bulpen ki biasane mbak wejeyente sing omahe sampinge kae, isih sedulur karo kang bulpen dan memang aktif di JCI maupun PB. Tenang aja nanti q investigasi dg halus, pura-pura memuji blog itu didepan dia

Mitha: oke dech, q percaya 100% atas kapasitas kapabilitas dan kredibilitasmu dlm hal-hal seperti ini

Dolob: Thx a lot for your confidence the majesty...

5 MINUTES LATER

Dolob: Udah ketemu Mith, judul blognya reporter jalanan www.cahyaxtsquar.blogspot.com kan? itu blognya mbak cahya alias mbak acha alias mbak mia alias mbak ning alias bu eko, rumahnya deket XT square ketimur dikit. Manggil eyang dg sebutan mas virgo. Manggil aq mas admin. Content nya gak cuma foto-foto dokumentasi acara PB kok tapi juga banyak acara-acara JCI. Overall no problem Mith, PB kan memang bersinergi dengan JCI sebagai satu keluarga besar.

Mitha: Masalahnya begini
(1) Banyak tmn2 yg gak suka coz itu ngambil dokumentasi kegiatan PB seolah kegiatan JCI
(2) Ngambil foto utk di reupload tanpa izin
(3) Beberapa foto kayak yg kita bertiga bergandengan tangan itu tak layak publish sebagai bagian dari foto komunitas


Dolob: Well, coba diresapi yach...
(1) Saat sebuah foto diunggah ke internet maka itu sama artinya dg mengizinkan siapapun mencomot/mengedit/bahkan menyalahgunakan foto tersebut. Jadi sudah tidak ada lagi yg namanya hak cipta. Kalo takut dilanggar hak cipta atau takut disalahgunakan atau merasa tak layak sebagai foto komunitas ya jangan diunggah ke media publik, simpan aja di laptop atau komputer pribadi, gampang kan?
(2) Kembalilah ke niat awal kita yaitu utk berbagi dg sesama dlm kerangka ibadah. PB hanyalah kendaraan bukan tujuan. Dan kita tidak rugi sama sekali ketika misalnya kegiatan PB dikira atau bahkan diakui oleh komunitas lain. Jika merasa rugi, maka mari bareng-bareng kita evaluasi lagi keikhlasan kita
(3) PB bersifat terbuka dan tidak ekslusif. Bahkan saat tahun baru 2014  q pernah mengusulkan kepengurusan PB dimekarkan dan lebih terbuka, meskipun akhirnya tidak disetujui krn ada yg khawatir orang-orang "senior" akan tersingkir

Mitha: Bukankah sebuah komunitas itu salah satu tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat? Foto-foto konyol semacam itu sama sekali gak mendidik, dan jika foto-foto diunggah di laman internet itu malah memberikan citra buruk bagi JCI mapun PB, kesan sosialnya dimana coba? (meskipun dia hanya main-main lho ya).  Harusnya pemilik blog memikirkn hal tersebut.

Mitha: Banyak tmn-tmn yg ingin keluar dari PB karena gak setuju JCI gabung dalam kegiatan-kegiatan PB

Mitha: q memang gak bisa berkiprah banyak pada PB seperti kalian para pengurus, tapi q cinta komunitas ini dg segala hal di dalamnya, jangan sampai karena masalah semacam itu malah jadi pecah. PR buat kamu Lob, jembatanilah semuanya dg baik. Kembali ke tujuan awal kita seperti waktu aksi perdana di jambidan dulu, yaitu niat membantu sesama. Kalian tentu sudah cukup paham utk saling mengenal satu sama lain dan karakter satu sama lain. Diskusikan, pikirkan, dan cari jalan yg terbaik, jangan sampai misi kemanusiaan terkalahkan oleh hal-hal duniawi. Hanya ini yg bisa q lakukan. Semoga kalian tetap solid...

Dolob: Ntar coba q rembug  dg PB-1, semoga ada solusi terbaik bagi semuanya

Mitha: PB-1 sudah pernah bilang beberapa waktu yg lalu bahwa kepengurusan inti sedang genting. Kalian harus bisa menyikapi ini dg bijak. q yg hanya jadi bagian dari kalian aja bangga kok sama komunitas ini, masak kalian yg ngejalaninnya malah bersilang pendapat. Dan silang pendapat demi sebuah harga egosentris menurutku

Mitha: Mungkin ada yg gak suka dg beberapa personil JCI karena sikap mereka tapi gak bisa juga donk mengeneralisasi hal-hal semacam itu truz jadi gak suka ama JCI secara institusi. Tak bisa dipungkiri memang JCI banyak memberi kontribusi ke kita, inikan sebenarnya hanya masalah perspektif saja.

Mitha: Masak orang udah pada dewasa semua gak bisa menyikapi hal semacam ini dg baik. Ibaratnya ketika JCI datang, kita kan tuan rumahnya jadi harus berlaku lebih arif

Mitha: Sebenarnya apa tho kurangnya kita? Misi kita jelas, tujuan pasti, tapi kenapa utk hal-hal yg berkaitan dg perspektif malah mengedepankan egosentrisnya? Kalau dibanding JCI kita memang ketinggalan beberapa langkah di belakang memang, kita kalah jumlah dan kalah kompak.

Mitha: Kemudian tentang media masuk banyak yg gak setuju, q benar-benar gak habis pikir alasane kok picik bgt: ndak pecah, ndak do dadi sombong, ndak do gumedhe. Tapi mereka lupa bahwa media adalah salah satu alternatif utk menyebarkan nilai-nilai sosial kepada masyarakat bahwa di tengah modernitas sekarang ini masih banyak komunitas yg peduli dg orang lain. inikan misi yg luar biasa. Orang bisa tahu, bisa memahami, dan bisa jadi upaya penyadaran diri utk ikut membantu orang lain, bisa juga malah akhirnya jadi donatur, itukan luar biasa.


Dolob: Sebenarnya kalo q bilang ke teman-teman pengurus JCI agar JCI bikin acara sosial sendiri ya bisa aja sih. Selama ini kan JCI memang sengaja gak ngadain baksos sendiri (bukan karena gak bisa) tapi karena sudah SANGAT PERCAYA pada kapasitas, kapabilitas dan kredibilitas PB dalam hal sosial kemanusiaan. Dan jangan salah ya, banyak bgt member JCI yg mendesak pengurus JCI agar ngadain baksos sendiri, tapi pengurus JCI tetap konsisten dg keputusan awal utk mempercayakan kegiatan sosial n penggalangan dana pada PB. Tapi tmn-tmn PB yg diamanahi kepercayaan n tanggungjawab kok malah kayak gini?

Mitha: Kok malah kehadiran media dianggap sebelah mata, lha nek dipikir bodoh bgt ya, do nggunakke FB nggo promosi kon mbantu ki po udu lewat media? q gak hbs pikir ngantian

Dolob: Media???? Emangnya selama ini FB itu apa bukan MEDIA??? Hahahaaaaa ngakak guling-guling

Dolob: Eh pikiran kita sama lagi ternyata yg terakhir tadi, terkirimnya dlm waktu yg sama pula! wkwkkk

Mitha: q gak habis pikir. q setuju malahan wartawan tribun kemarin datang kan bukan utk mencari popularitas tapi secara entitas komunitas ini semakin dihargai dan eksistensinya diakui. Kuwi do takonono konco-koncomu yg berpikiran picik media gor nggo popularitas!

Dolob: Bukannya kuwi malah bolo kurowomu yo sing do berpikiran sempit?

Mitha: Tapi kan koncomu juga tho?

Dolob: iyo sih, q mana ada punya musuh Mith, kabeh konco kabeh sedulur raono cinta-cintaan cieeeeeeee

Mitha: Truz kuwi juga do butuh penyadaran ulang bahwa media memang seperti 2 sisi mata uang, bisa jadi positif dan negatif, tapi kita kan orang yg berpikiran luas, dan katanya, katanya nih komunitas PB kan bersifat terbuka dg anggota dari manapun maka PB juga harusnya lebih terbuka dg pemikiran-pemikiran baru yg lebih up to date, gak cuma kayak siput jalan di tempat sambil tengok kanan kiri

Mitha: Mosok koyo ngene wae dadi masalah. Sadar ra iki masalahe gur koyo cah cilik bgt:
(1) Wegah nek ro JCI mergo ngopo? Nek ono JCI ngerasa kalah? Hadehhhh
(2) Media marai sombong. Padahal sombong orane wong ki ora mergo media tapi mergo ati personale. Jiannn koyo cah cilik bgt.

 

Dolob: Malem jumat sesuk melu rapat darurat wae. Dirimu kan masuk neng draft struktur pengurus PB versi pemekaran (versiku), sebagai koordinator sie konsumsi. Mangkat wae rapopo, q sing tanggungjawab nek ono sing ra trimo

Mitha: q ra penak ro liyane, tur kuwi kan sebenare masalah kalian, q selama ini gak pernah ikut campur ndak mrai ati mereka-mereka do kemrejut mengko malahan

Dolob: Sing konyol meneh ki wingi pas rapat online jajaran pengurus PB ono sing usul rodo mekso kon kembali seperti awal-awal dulu yaitu posting baksos hanya di group facebook PB dan RBB, jangan ke group lain seperti JCI, BMHB, dll. Come on....everythings gonna change guys!!!! Life is a dynamic process!!! Bahkan group facebook RBB yg asli aja udah gak ada lho sekarang. Yg ada cuma beberapa group RBB tiruan dg member cuma dikit

Dolob: Padahal wingi pas baksos trowono kae q nyoba share postingan PB-1 di 150an group FB yg q ikutin, ternyata hasil donasinya yo lumayan sing nitip ke aku thok wae sampai 4,5jt. Belum lagi yg nitip ke relawan PB lainnya

Mitha: That's great!!! You're the best...

Mitha: Oiya kalo bisa tolong cariin fotonya cahya ya, pengen tau aku


Dolob: He'eh...

2 WEEK LATER

Dolob: Kang fulan minta km masuk di jajaran pengurus PB lho, bukan sebagai koordinator sie konsumsi tapi sebagai Bendahara mendampingi mbak jelly drink. Tapi misalnya hari H masih mau nyiapin konsumsi juga gpp, q bantuin seperti biasa wes

Mitha: Gak ah, q gak suka masuk jajaran, km bisa telp q bentar?

Dolob: Sure, wait a minute....

Dolob: Gmn jadinya bersedia bantu mbak jelly drink jadi bendahara gak? Soalnya kasihan beliau sering kewalahan dan kalo rapat juga cewek sendirian
 
Mitha: q pendukung aja dech, banyak hal yg masih harus diselesaikan

Dolob: Oke baiklah... U asked for it

Mitha: Coba tmn-tmn yg stay di jogja dulu aja, q bakal tetep mendukung semua kegiatan di komunitas ini kok. Tenang aja q gak bakalan keluar, u will not loose me hahaha... Lha bendahara selain mbak jelly drink kan masih ada si hidup tho?

Dolob: Jare kang fulan, beliau mau difokuskan ke divisi lapangan, bahu-membahu dg kang lontong n kang bulpen n kang fulan juga tentunya. Jadi ceritanya bsk mau dipisah ada pengurus dan ada divisi lapangan (semacam pemborong bangunan gitu). Survey calon target dilakukan oleh pengurus, lalu dirapatkan oleh pengurus, kalo deal bedah rumah langsung dilimpahkan ke divisi lapangan. Survey ke-2 dan ke-3 dilakukan oleh divisi lapangan krn berkaitan dg masalah teknis. Jadi pengurus gak boleh mencampuri urusan bangunan krn sudah dipasrahkan pada divisi lapangan. Oiya divisi lapangan ini sifatnya terbuka, siapa yg selama ini terbukti aktif di lapangan dan bertanggungjawab ya diajak gabung, tanpa melihat latar belakangnya mau dari PB atau JCI atau group lain gak masalah.

Mitha: Apa gak terlalu gendut nanti strukturnya? Kayak km donk ntar hahahaa
 

Dolob: No problem, jaremu perut sixpack itu macho tapi perut one pack itu sexy tho? Lagian skrg kan udah gak jamannya cowok L-men, lebih keren cowok prenagen wkwkwkkk...

Mitha: Ah km emang raja ngeyel dan raja ngeles. Tp gpp deh sak bahagiamu wae sing penting kabeh berjalan lancar

Dolob: As far as i know, justru cita-cita utk menjadikan PB bersifat terbuka n gak eksklusif sudah mulai terwujud Mith. Konflik kecil kemarin malah menjadi hikmah tersendiri. Everything happen for a reason, tidak ada yg namanya kebetulan, semua adalah skenario sempurna dari sang maha script writer sekaligus sang maha sutradara

Mitha: Yoi brow..... 4 thumbs up deh buat km
 

Dolob: Asemikkkkk kok 4 jempole sopo wae kuwi? Sing 2 nyilih jempole tanggane po?

Mitha: Ora yo, sing 2 jempol tangan sing 2 jempol sikil hahahaa

Dolob: Woooooo...dasar bocah gemblung!!!

Sabtu, 22 November 2014

DIALOG TANPA JEDA (ORIGINAL VERSION UNCENSORED)


Mitha: Hei kamu lelaki yg menggadai harga diri laiknya eksistensi. Tahukah kau itu sama brengseknya dg zaman anarkhi yg dihias tasbih sana-sini

Dolob: Hei kamu wanita yg mendamba tuk dipuja, taukah kau itu laksana bintang disiang bolong.. indah tapi tak nampak! Tertutup keangkuhanmu!

Mitha: Emang kamu siapa? Filsuf yunani? Aristokrat betawi? Kamu itu hanya paham sejarah. Ini masa kini bukan masa lampau!

Dolob: Dan kamu siapa, wanita penyembah privasi, tak sadarkah kelak privasimu yg paling elegan hanya berukuran 2x1?

Mitha: Tak perlu kau olok-olok aku. Kau sama saja, penggila kebobrokan dunia! Aku marah! Aku benci!

Dolob: Haaa penggila kebobrokan dunia??? Buat apa aku menggilai dunia yg sudah gila ini, itu sama gilanya dg menggilaimu yg tidak kalah gila pula tentunya hahahaa...

Mitha: Sudahlah tak perlu kau omong kosong belaka. Kau berjanji tapi bah!!!!!! Hanya monyet penari di perempatan yg akan disegel polisi

Dolob: Kau tak pernah berjanji tapi apa? Kau menebar ekspektasi dihati para lelaki, hingga akhirnya mereka satu persatu patah hati

Mitha: Kau tak lebih dari merpati yg sok suci

Dolob: Dan kau pun hanya burung bangau yg sok tau

Mitha: Tak perlu kau memberi label padaku. Aku sudah terlanjur hidup di hati belantara dunia yg terlalu mewah ini

Dolob: Hahhh aku memberi label? Bukankah label itu sudah ada di kulitmu yg mulus sempurna itu sejak kau pertama kali melihat dunia? W=Wild

Mitha: Ah kau hanya cemburu...

Dolob: Cerewetmu tak lebih berharga dari ocehan burung camar tolol

Mitha: Heh??? Sejak kapan camar itu tolol? Hanya orang bodoh yg bilang camar si romantis itu tolol. Kamu bego? Iya...

Dolob: Kau bahkan tak pernah tahu bang iwan fals punya lagu celoteh camar tolol. Kurasa titel mastermu tak otomatis memberimu previlege utk mengatakan beliau bodoh

Mitha: Betapa buruknya katamu. Apa perlu aku gadaikan sekolah elit agar kau tahu bagaimana menulis surga?

Dolob: Ah kau pun tak lebih baik dariku

Mitha: Kau tak lebih dari robot pencetak mesin kata-kata error

Dolob: Dan kau pun hanyalah mesin ketik tua yg berlagak modern

Mitha: Kau bahkan tak lebih baik dari lampu perempatan yg setia berkedip tiap menit. Kau tak lebih dari plastik yg meleleh disiram kobaran api. Kau gila! Mesin zaman edan!

Dolob: Jika kau tahu aku setia berkedip setiap menit di perempatan lalu kenapa kau hanya berlalu saja seperti badai, tak bisakah sekali saja berhenti sejenak tuk menatapku

Mitha: Mana mungkin aku menatapmu, kau tak lebih dari cagak mati yg tak perlu diberi arti. Sudahlah aku muak berbicara denganmu yg mulutnya tak lebih dari sekedar obralan kata-kata liar

Dolob: Apa bedanya dg mulutmu yg beraroma wangi bunga bangkai? Dimana letak hatimu, taukah kau untuk siapa aku berkedip tiap menit?

Mitha: Aku tak peduli

Dolob: Jangankan menatapku, bahkan sekedar melengos pun tidak! Kau terlalu terpaku mengejar bayangan yg entah sampai kapan akan terus meninggalkanmu

Mitha: Tak perlu kau berbicara layaknya roh kudus

Dolob: Kaupun hanya diam membisu laksana bunda maria

Mitha: Lalu apa pedulimu?

Dolob: Ah kau memang tak beda dg rayya, dan sayangnya aku tak pernah bisa mengimbangimu seperti Arya...Aku hanyalah Kemal yg dg mudahnya kau campakkan!

Mitha: Rayya itu milik dunia dan dunia terlalu luas untuk disinggahi banyak suku kata. Dunia perlu ditutup mungkin, ide bagus bukan?

Dolob: Dunia tak harus ditutup, justru otak sempitmu itu yg harus dibuka. Otakmu terlalu cerdas utk dikurung di tempurung kepala, ingin sekali kupecahkan kepalamu yg congkak itu agar otakmu terbebas dari belenggu

Mitha: Tak usah kau mengguruiku laksana siwa

Dolob: Dan tak perlu juga kau memohon-mohon laksana Srikandi

Mitha: Kau bukan dewa yg tahu segalanya

Dolob: Kau juga bukan dewi yg seenaknya saja menggoda para dewa

Mitha: Hahahahaa.. aku benci kata dewi. Beuh!!!!!! Sok suci

Dolob: Ah kau hanya cemburu

Mitha: Kau menyindirku? Aku tak pernah memohon padamu... (kecuali kalau aku butuh tentu saja)

Dolob: Buat apa aku menyindir orang yg tak punya hati, yg hanya ingat saat butuh

Mitha: Tepat! Hatiku sudah kugadaikan di loakan dan tukang koran biar jadi buruan berita para wisatawan

Dolob: Saat terluka kau datang padaku tapi saat lukamu mengering kau asyik bersamanya lagi. Kau kira aku betadine??

Mitha: Tak usah sok baik mengungkit pemberitaan sok baik

Dolob: Kau bahkan tak pernah sekalipun meluluskan permintaanku, padahal kau tak pernah tau mungkin itu adalah permintaan terakhirku. Kau malah menjanjikan sesuatu yg aku tak butuhkan, karena aku bukan pemuja prestise

Mitha: Kau bukan Tuhan yg tahu kapan kau akan dideadlinekan menghadap

Dolob: Kau juga bukan setan yg selalu menyakiti kan?

Mitha: Apa pedulimu. Mau setan, mau iblis, mau malaikat, mau psikopat, kau tak perlu tahu!

Dolob: Jadi selama ini aku peduli padamu kau anggap apa hahhh? Akting?  Kau memang tak pernah berubah, selalu merasa aneh melihatku

Mitha: Kau memang aneh! Dan kau tahu? Aku smkin muak dg smua lelucon ini!

Dolob: Kau tuh wanita yg nyangka semua pria rela menjilat kakimu. Kau tuh perempuan yg ngarep semua lelaki ngasih cintanya buatmu tapi kau sendiri penuh dg penolakan2 dan ketidakterimaan. Kau tuh manusia keramik yg semua orang harus jaga perasaannya tapi kau sendiri tak pernah menghargai orang lain!

Mitha: Itu terserah aku, emang kau siapa hah??

Dolob: Kau seringkali bertanya, kenapa aku selalu baik padamu kan?

Mitha: Karena kau bukan orang baik jadi kau berpura-pura baik.. Itu jawaban diplomatis sepanjang masa

Dolob: Kelak kau akan tau jawabnya ketika aku sudah tak baik lagi padamu, dan itu akan menjadi sangat mengerikan

Mitha: Jadilah setan sekarang, biar wujud aslimu kelihatan, biar orang tak hanya melihatmu dalam bingkai kesopanan yg dibalut sutera. Biar orang tahu betapa kau durjana yg mengoleksi dosa

Dolob: Aku memang setan! Aku hanya pemuja nafsu!

Mitha: Dan kau tahu?????? Aku tak ada bedanya denganmu!

Dolob: Hmmm... Bukankah sudah kukatakan semua padamu tentang kelamnya duniaku? Dan sebelumnya aku tak pernah menceritakannya seterbuka padamu itu. Berasa seperti tidur telanjang disampingmu lalu kau bedah semua isi otakku, jantungku, hatiku... Hingga terbongkar semua, nyaris tanpa sisa!

Mitha: Aku muak! Muak! Muak! Kita tutup saja epilog ini. Aku yg akan selalu pegang kendali. Hei sipir kaku hasil otopsi.... Selamat tinggal....

Dolob: Jangan bersandiwara! Kau bukan muak, masih menikmati permainan ini hanya saja jarum pendek tak mau berhenti mendekati angka 9

Mitha: Enough!!!

Dolob: Jangan kau kira aku tak tau bahkan obrolan sampah ini pun hanya karena kau gagal membunuh sepi harus menunggu dentang 9 kali. Kau memanfaatkanku lagi bangsat!!! Oke, silahkan memperlakukanku sesuka hatimu hei perempuan sundal, besok atau lusa kau pasti menyesalinya! Camkan itu!

(BUKAN) IMAGINARY CHAT


Dolob: Jare lagi ra enak body jeng, wis sehat rung?

Mitha: Alhamdulillah wis lumayan. iki sopo yo? Rung ono neng phonebook


Dolob: Udu sopo2 kok, mung lare nggunung


Mitha: Sopo? Sulungguh po?


Dolob: Udu, emange sing lare nggunung gur kang sulungguh thok!


Mitha: Njur sopo kowe?


Dolob: Yo tebak wae kowe kan pinter


Mitha: Wooo tak jenengi paijo wae yo? 


Dolob: Asemik... berarti kowe paijem wkwkk


Mitha: Lagi nengdi kowe jo paijo?


Dolob: Takon-takon koyo polisi wae!


Mitha: Wooo dasar paijo gebleg, ndene kowe tak nggo umpan mancing boyo wae


Dolob: Boyo ki ora kanibal yo, mosok boyo arep mbok umpani boyo??


Mitha: Rasido ding boyone ra gelem soale kowe kan babi, haram!


Dolob: Saiki tak takon ngopo kok anak babi mlakune nunduk??


Mitha: Lha mbuh ngopo takon aku wong babine kowe


Dolob: Salah, sing bener soale isin duwe wong tuwo babi


Mitha: Wooo kurangajar kowe ngece wongtuamu dewe, tobaaaat tobaaaaat le....ndak kuwalat


Dolob: Saiki ngopo anak macan kok mlakune ora nunduk?


Mitha: Takon-takon koyo polisi wae


Dolob: Salah meneh... jawabane soale ora isin, kan wong tuone udu babi


Mitha: Ah mbuh luweh


Dolob: Skor 3-0 iki, kowe dihukum ilang tato huruf W neng tanganmu mengko bengi jam 12. Lagian hare gene mosok tato neng tangan, ra gaul babar blas!


Mitha: Yo ben, njur sing gaul nengdi?


Dolob: Tato neng untu!


Mitha: Oiya soale untumu kan ono sing sila, ono sing sujud, ono sing sedekung...


Dolob: Yo ben, daripada untumu karaten


Mitha: Enak aja, aku rajin scling yo


Dolob: Rajin scling tapi untumu ra tau dizakati dadi yo percuma


Mitha: Jahat bgt sih


Dolob: Kowe kan nek dijahati malah apik tapi nek diapiki malah jahat!!!