Sabtu, 22 November 2014

DIALOG TANPA JEDA (ORIGINAL VERSION UNCENSORED)


Mitha: Hei kamu lelaki yg menggadai harga diri laiknya eksistensi. Tahukah kau itu sama brengseknya dg zaman anarkhi yg dihias tasbih sana-sini

Dolob: Hei kamu wanita yg mendamba tuk dipuja, taukah kau itu laksana bintang disiang bolong.. indah tapi tak nampak! Tertutup keangkuhanmu!

Mitha: Emang kamu siapa? Filsuf yunani? Aristokrat betawi? Kamu itu hanya paham sejarah. Ini masa kini bukan masa lampau!

Dolob: Dan kamu siapa, wanita penyembah privasi, tak sadarkah kelak privasimu yg paling elegan hanya berukuran 2x1?

Mitha: Tak perlu kau olok-olok aku. Kau sama saja, penggila kebobrokan dunia! Aku marah! Aku benci!

Dolob: Haaa penggila kebobrokan dunia??? Buat apa aku menggilai dunia yg sudah gila ini, itu sama gilanya dg menggilaimu yg tidak kalah gila pula tentunya hahahaa...

Mitha: Sudahlah tak perlu kau omong kosong belaka. Kau berjanji tapi bah!!!!!! Hanya monyet penari di perempatan yg akan disegel polisi

Dolob: Kau tak pernah berjanji tapi apa? Kau menebar ekspektasi dihati para lelaki, hingga akhirnya mereka satu persatu patah hati

Mitha: Kau tak lebih dari merpati yg sok suci

Dolob: Dan kau pun hanya burung bangau yg sok tau

Mitha: Tak perlu kau memberi label padaku. Aku sudah terlanjur hidup di hati belantara dunia yg terlalu mewah ini

Dolob: Hahhh aku memberi label? Bukankah label itu sudah ada di kulitmu yg mulus sempurna itu sejak kau pertama kali melihat dunia? W=Wild

Mitha: Ah kau hanya cemburu...

Dolob: Cerewetmu tak lebih berharga dari ocehan burung camar tolol

Mitha: Heh??? Sejak kapan camar itu tolol? Hanya orang bodoh yg bilang camar si romantis itu tolol. Kamu bego? Iya...

Dolob: Kau bahkan tak pernah tahu bang iwan fals punya lagu celoteh camar tolol. Kurasa titel mastermu tak otomatis memberimu previlege utk mengatakan beliau bodoh

Mitha: Betapa buruknya katamu. Apa perlu aku gadaikan sekolah elit agar kau tahu bagaimana menulis surga?

Dolob: Ah kau pun tak lebih baik dariku

Mitha: Kau tak lebih dari robot pencetak mesin kata-kata error

Dolob: Dan kau pun hanyalah mesin ketik tua yg berlagak modern

Mitha: Kau bahkan tak lebih baik dari lampu perempatan yg setia berkedip tiap menit. Kau tak lebih dari plastik yg meleleh disiram kobaran api. Kau gila! Mesin zaman edan!

Dolob: Jika kau tahu aku setia berkedip setiap menit di perempatan lalu kenapa kau hanya berlalu saja seperti badai, tak bisakah sekali saja berhenti sejenak tuk menatapku

Mitha: Mana mungkin aku menatapmu, kau tak lebih dari cagak mati yg tak perlu diberi arti. Sudahlah aku muak berbicara denganmu yg mulutnya tak lebih dari sekedar obralan kata-kata liar

Dolob: Apa bedanya dg mulutmu yg beraroma wangi bunga bangkai? Dimana letak hatimu, taukah kau untuk siapa aku berkedip tiap menit?

Mitha: Aku tak peduli

Dolob: Jangankan menatapku, bahkan sekedar melengos pun tidak! Kau terlalu terpaku mengejar bayangan yg entah sampai kapan akan terus meninggalkanmu

Mitha: Tak perlu kau berbicara layaknya roh kudus

Dolob: Kaupun hanya diam membisu laksana bunda maria

Mitha: Lalu apa pedulimu?

Dolob: Ah kau memang tak beda dg rayya, dan sayangnya aku tak pernah bisa mengimbangimu seperti Arya...Aku hanyalah Kemal yg dg mudahnya kau campakkan!

Mitha: Rayya itu milik dunia dan dunia terlalu luas untuk disinggahi banyak suku kata. Dunia perlu ditutup mungkin, ide bagus bukan?

Dolob: Dunia tak harus ditutup, justru otak sempitmu itu yg harus dibuka. Otakmu terlalu cerdas utk dikurung di tempurung kepala, ingin sekali kupecahkan kepalamu yg congkak itu agar otakmu terbebas dari belenggu

Mitha: Tak usah kau mengguruiku laksana siwa

Dolob: Dan tak perlu juga kau memohon-mohon laksana Srikandi

Mitha: Kau bukan dewa yg tahu segalanya

Dolob: Kau juga bukan dewi yg seenaknya saja menggoda para dewa

Mitha: Hahahahaa.. aku benci kata dewi. Beuh!!!!!! Sok suci

Dolob: Ah kau hanya cemburu

Mitha: Kau menyindirku? Aku tak pernah memohon padamu... (kecuali kalau aku butuh tentu saja)

Dolob: Buat apa aku menyindir orang yg tak punya hati, yg hanya ingat saat butuh

Mitha: Tepat! Hatiku sudah kugadaikan di loakan dan tukang koran biar jadi buruan berita para wisatawan

Dolob: Saat terluka kau datang padaku tapi saat lukamu mengering kau asyik bersamanya lagi. Kau kira aku betadine??

Mitha: Tak usah sok baik mengungkit pemberitaan sok baik

Dolob: Kau bahkan tak pernah sekalipun meluluskan permintaanku, padahal kau tak pernah tau mungkin itu adalah permintaan terakhirku. Kau malah menjanjikan sesuatu yg aku tak butuhkan, karena aku bukan pemuja prestise

Mitha: Kau bukan Tuhan yg tahu kapan kau akan dideadlinekan menghadap

Dolob: Kau juga bukan setan yg selalu menyakiti kan?

Mitha: Apa pedulimu. Mau setan, mau iblis, mau malaikat, mau psikopat, kau tak perlu tahu!

Dolob: Jadi selama ini aku peduli padamu kau anggap apa hahhh? Akting?  Kau memang tak pernah berubah, selalu merasa aneh melihatku

Mitha: Kau memang aneh! Dan kau tahu? Aku smkin muak dg smua lelucon ini!

Dolob: Kau tuh wanita yg nyangka semua pria rela menjilat kakimu. Kau tuh perempuan yg ngarep semua lelaki ngasih cintanya buatmu tapi kau sendiri penuh dg penolakan2 dan ketidakterimaan. Kau tuh manusia keramik yg semua orang harus jaga perasaannya tapi kau sendiri tak pernah menghargai orang lain!

Mitha: Itu terserah aku, emang kau siapa hah??

Dolob: Kau seringkali bertanya, kenapa aku selalu baik padamu kan?

Mitha: Karena kau bukan orang baik jadi kau berpura-pura baik.. Itu jawaban diplomatis sepanjang masa

Dolob: Kelak kau akan tau jawabnya ketika aku sudah tak baik lagi padamu, dan itu akan menjadi sangat mengerikan

Mitha: Jadilah setan sekarang, biar wujud aslimu kelihatan, biar orang tak hanya melihatmu dalam bingkai kesopanan yg dibalut sutera. Biar orang tahu betapa kau durjana yg mengoleksi dosa

Dolob: Aku memang setan! Aku hanya pemuja nafsu!

Mitha: Dan kau tahu?????? Aku tak ada bedanya denganmu!

Dolob: Hmmm... Bukankah sudah kukatakan semua padamu tentang kelamnya duniaku? Dan sebelumnya aku tak pernah menceritakannya seterbuka padamu itu. Berasa seperti tidur telanjang disampingmu lalu kau bedah semua isi otakku, jantungku, hatiku... Hingga terbongkar semua, nyaris tanpa sisa!

Mitha: Aku muak! Muak! Muak! Kita tutup saja epilog ini. Aku yg akan selalu pegang kendali. Hei sipir kaku hasil otopsi.... Selamat tinggal....

Dolob: Jangan bersandiwara! Kau bukan muak, masih menikmati permainan ini hanya saja jarum pendek tak mau berhenti mendekati angka 9

Mitha: Enough!!!

Dolob: Jangan kau kira aku tak tau bahkan obrolan sampah ini pun hanya karena kau gagal membunuh sepi harus menunggu dentang 9 kali. Kau memanfaatkanku lagi bangsat!!! Oke, silahkan memperlakukanku sesuka hatimu hei perempuan sundal, besok atau lusa kau pasti menyesalinya! Camkan itu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar